11 Hari di pulau Flores - Indonesia Timur

Updated: Dec 1, 2019
Pulau Flores,.
Sejauh peralanan ku sampai saat ini belum ada destinasi yang menggantikan keindahan yang tersimpan di pulau tersebut. Pulau yang terletak di daerah Timur Indonesia dan menjadi salah satu dari 7 WONDERFUL OF INDONESIA (#wonderfulindonesia) yang terkenal dengan nama Pulau Komodo. Mungkin aku ga akan banyak menjelaskan apa dan dimana letak pasti pulau Flores ini, karena pasti sebagian banyak sudah mengenal nama dari tempat ini.
Berbagi pengalaman di Flores…
11 hari waktu yang ku sediakan khusus untuk mengelilingi pulau Flores. Walaupun mungkin masih banyak destinasi yang belum berhasil tercentang, so far aku sangat puas dengan trip ku kali ini. Dalam page ini aku akan berbagi tips, destinasi mana aja yang berhasil tercentang dan info – info terkait secara garis besar selama aku mengililingi Flores dari mulai keberangkatan hingga pulang.
Seperti biasa yang saran yang pertama dan utama adalah, membuat manajemen perjalanan seperti menentukan destinasi yang akan di kunjungi
Tips perjalanan :
1. Tentukan destinasi
2. Transport - booking
3. Tempat bermalam - booking
4. Cari info budgeting
Saran perjalanan ke Flores cari banyak – banyak temen seperjalanan dan seperjuangan jalan di sini. Karena semakin banyak temen semakin murah semakin nambah temen terus nambah juga followers IG (menimbang keeksisan Instagram saat ini sedang tinggi) hehe
Intinerary Perjalanan 11 hari ( 27 Maret – 5 April 2018):
27 Maret – 29 Maret 2018 (part 1)
Destinasi sekitar Labuan bajo :
1. Waecicu Beach, Labuan Bajo
2. Bukit Sylvia, Labuan Bajo
3. Bukit Cinta, Labuan Bajo
4. Goa Cermin, Labuan Bajo
5. Goa Rangko, Labuan Bajo
6. Cunca Wulang, Labuan Bajo
30 Maret – 2 April 2018 (part 2)
Sailing Pulau :
1. Pulau kelor
2. Pulau Padar
3. Gili Lawa
4. Taka Makassar
5. Pulau Komodo
6. Manjarite
7. Pink Beach
8. Gili Laba
9. Pulau Kanawa
10. Pulau Siaba
3 April – 5 April 2018 ( part 3 )
Bajo menuju Ende:
7. Sawah Spider
8. Desa Adat Waerebo
9. Desa Adat Bena
10. Danau Kelimutu
"Kenapa sih di bagi 3 part gini? "
Karena jadwal sailing aku itu tanggal 30 Maret, jadi sengaja aku datang lebih awal untuk explore wisata sekitar Labuan bajo. Part 3 adalah part dimana kami explore dari Labuan bajo menuju Ende.
Cukup dengan planning di atas, saatnya eksekusi perjalanan, setelah ini aku share budgeting perjalanan ku selama di Flores. FYI, selama perjalanan ini jumlah teman perjalanan ku beda beda yaa. Jadi budgeting yang akan di buat itu budgeting sesuai pengalaman ku. Aku share sejelas mungkin untuk memberi gambaran detail.
# Keberangkatan:
Keberangkatan ku menggunakan maskapai pulang pergi SRIWIJAYA AIR LINES.
Pergi : Jakarta - Bali - Labuan Bajo ( Rp. 1.276.100 )
Pulang : Ende - Kupang - Jakarta (Rp. 1.223.900 )
*tips tiket murah
Kebetulan aku dapat tiket yang harga normal dan menurut ku ini masih mahal karena temen ku dapat harga di Rp 900.000 PP Jakarta – Bajo , Rp 300.000 Ende- Bajo. Jadi total mereka dapat harga 1.200.000 sudah PP.
Tips nya pantengin terus deh layer laptop sama hp, banyak – banyak cari travel fair karena biasanya travel fair menawarkan harga yang sangat murah jauh dari harga normal nya
# Penginapan:
Siola hotel pilihan ku saat itu menimbang jarak hotelnya sangat dekat dengan pelabuhan dan pasar. 1 kamar tersedia untuk 2 orang dapat sarapan pagi.
Siola Hotel harga :
Fan :Rp 200.000/ kamar
Ac :Rp 300.000/ kamar
Review Hotel :
Untuk harga Rp 200.000 aku cukup puas dengan kebersihan dan ramahnya. Untuk view memang ga terlalu dapat. Melihat jarak dan pasar dan bayak tempat makan serta kamar yang nyaman untuk beristirahat cukup puas dan recommend sih untuk para backpacker.
# Sewa Motor : #SewaMotorflores
Harga :Rp 50.000 / Hari
Langsung booking aja gann, sis . dikarenakan cepat sekali habis stok motor nya.
Budgeting Sailing :
Sewa kapal : 15.000.000 / kapal
15 orang / kapal
Selama 3 hari destinasi sudah di tentukan
Makan 3x sehari
Minum
Tempat tidur
# Budget selama perjalanan #biayaexploreflores
Tiket sailing : Rp 120.000 / Orang
Guide : Rp 480.000 / Group
Tambahan Tips : Rp 350.000 (Sukarela)
Pulau Kenawa : 200.000 / Group
Extend Waerebo + Danau Kelimutu :
Mobil Elf : Rp 16.000.000 (1 elf besar + 1 elf kecil ) AC
Waerebo : Rp 325.000/orang
Guide Waerebo : Rp 300.000 / group
Acara Adat : Rp 100.000 / group
Makan Supir : Rp 250 (*tentative 4 hari)
Hotel di bajawa : 150.000/kamar
Tiket Desa Bena : Rp 20.000 / orang
Tiket Danau Kelimutu : Rp. 5.000/ orang
Hari terakhir ku di flores sebelum pulang aku menginap di rumah singgah di Ende dengan beberapa teman ku. Sampai akhir nya tiba waktu nya aku harus pulang . huhuhu
Sedih sih tapi yasudah lah , ada awal dan ada akhir tau ah endingnya agak lebay .
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian para pejalan pejalan.
Berikut aku share budgeting lengkap.
Terimakasih, selamat bersenang senang :)
Salam O,
Oktaviaopi






A conversation about learning about lakes and outdoor recreation seems most useful to me when it leaves space for uncertainty and further questions. A lakeside setting can offer opportunities to observe nature and discuss responsible recreation. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring Wilkasy outdoor learning. I would be interested in a simple example, because it is often the ordinary details that make an idea memorable. How could an outdoor lesson combine observation with consideration for other visitors?
What draws my attention to exploring village stories through local research is the possibility of making an unfamiliar subject feel closer to everyday life. A small place can have many stories when people are asked about ordinary changes over time. It also gives the phrase Wilczynek local research a clearer meaning than a label on its own. The part I would like to explore further is what happens when the idea meets a real situation with its own limitations. Which interview questions would help pupils learn more than a place name and a date?
The subject of understanding the rules and risks of sports betting feels more interesting when there is room for a reader to stop and ask their own questions. Clear explanations of odds and limits can make it easier to examine a betting claim critically. I would use that point as a starting question when considering sports betting literacy. The part I would like to explore further is what happens when the idea meets a real situation with its own limitations. Which terms should a newcomer understand before considering what an advertised offer means?
What interests me about making after-school activities engaging is how a broad idea becomes part of an ordinary day. An informal activity can give children room to try an interest outside the usual lesson structure. It also gives the phrase after school learning activities a clearer meaning than a label on its own. I would be interested in a simple example, because it is often the ordinary details that make an idea memorable. How can an after-school group welcome both regular participants and new arrivals?
What draws my attention to discovering local culture in Suprasl is the possibility of making an unfamiliar subject feel closer to everyday life. A local building or tradition can connect a cultural topic with a place learners recognise. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring Suprasl cultural learning. I would probably come back to this question after trying to work through one concrete example rather than deciding immediately. How could a class explore local culture through observation rather than only description?